Minggu, 17 Mei 2026

"Tragedi Cinta Pertama Marollop"

Bab 1:
Dua Remaja, Satu Sepeda Motor

Kisah itu dimulai di sebuah sudut kota Medan yang hangat, saat Marollop masih berseragam biru putih di kelas 3 SMP. Di sanalah ia mengenal cinta pertamanya.
Rumah mereka berdekatan, hanya berselisih nomor, tumbuh di bawah lingkungan komplek yang sama: Asrama Polisi Kampung Durian, Medan. Karena jarak yang sejengkel itu pula, orang tua mereka saling mengenal dengan sangat baik, sebab sama-sama merupakan abdi Bhayangkara. Restu mengalir tanpa jeda, seolah semesta pun setuju bahwa kedua anak remaja polisi ini memang diciptakan untuk satu sama lain.
Bagi Marollop dan gadisnya, hari-hari remaja adalah tentang kebersamaan yang mutlak. Ke mana pun kaki melangkah, berangkat sekolah, pergi ke tempat kursus, hingga jalan-jalan menikmati sore di hari libur, sepeda motor tua Honda Cup 70 CC berwarna hijau menjadi saksi bisu deru cinta mereka. Di mata tetangga dan teman-teman komplek, mereka adalah sepasang kekasih yang tak terpisahkan.
Jalinan itu begitu erat, hingga ketika Marollop melanjutkan sekolah ke STM Negeri 1 Medan, gadis itu dengan setia mengantarnya sampai ke gerbang sekolah.  Bahkan, saat Marollop harus menjalani praktik kerja lapangan setiap hari Selasa di tempat lain, senyum gadis itu selalu ada, entah untuk mengantar atau menjemputnya tanpa kenal lelah, menjadi penyemangat paling utama dalam hidup Marollop.

Bab 2:
Kerikil Tajam dan Bandara Polonia yang Penuh Harapan

Namun, lautan sepuluh tahun tak selamanya tenang. Ada kalanya Marollop harus menelan pil pahit saat sebuah kesalahpahaman atau kehadiran lelaki lain meretakkan hatinya. Ada momen-momen di mana ia merasa sangat dikecewakan, hingga batinnya terombang-ambing di ambang keputusasaan. Namun, demi ketulusan cinta pertamanya, Marollop selalu memilih untuk bertahan dan memaafkan.
Waktu menuntut kedewasaan. Selepas tamat dari STM Negeri 1, Marollop mencoba mengadu nasib dengan melamar menjadi karyawan Telkom. Alhamdulillah, dalam seleksi yang ketat tersebut, Marollop menjadi salah seorang yang dinyatakan lulus. Ia harus mengikuti pendidikan Bintal Kewiraan di Pusdikhub AD Cimahi, Bandung, selama sebulan, setelah itu tanpa kembali ke Medan, langsung dilanjutkan dengan pendidikan Telkom selama satu tahun penuh di Palembang.
Hari keberangkatan di Bandara Polonia, Medan, menjadi momen yang sangat mengharukan. Di sana, di tengah hiruk-pikuk bandara, sang kekasih berdiri berdampingan sembari mendekap erat tangan ibunda Marollop. Gadis itu melepasnya pergi dengan lambaian tangan penuh harapan dan tatapan berat, seiring burung besi "Merpati Air Lines" yang membawa Marollop mulai tinggal landas menuju angkasa.
Jarak Medan - Palembang saat itu terasa begitu menyiksa. Namun, lembaran surat yang ditulis dengan tinta rindu dan suara sayup-sayup yang dinanti di ujung telepon menjadi penyambung nyawa hubungan mereka. Ketika masa pendidikan selesai, Marollop kembali ke Medan dengan dada yang bergemuruh. Cinta mereka tidak luntur oleh jarak; hari demi hari, cinta mereka justru bersemi jauh lebih indah, seolah tinggal selangkah lagi menuju masa depan yang mapan bersama.

Bab 3:
Tangisan Aneh dan Firasat di Batas Kota

Ujian sesungguhnya tiba, hanya tiga minggu setelah Marollop menginjakkan nya kaki kembali di Medan. Surat keputusan dari Telkom keluar, dan ia mendapatkan penempatan kerja di Telkom Banda Aceh.
Hari perpisahan itu mendadak diselimuti mendung yang pekat. Sang kekasih melepas kepergian Marollop dengan kesedihan yang teramat luar biasa. Gadis itu menangis histeris, sebuah tangisan yang bagi Marollop terasa sangat janggal, aneh, dan berlebihan. Ada ketakutan sekaligus rasa bersalah yang tak biasa di mata gadis itu. Saat itu, Marollop mengira itu hanyalah beratnya perpisahan sementara karena ia harus merantau lagi. Ia sama sekali tidak menyadari, bahwa tangisan histeris itu adalah sebuah firasat kelam. Sebuah salam perpisahan yang disamarkan.
Tiga bulan pertama di Banda Aceh dihabiskan Marollop dengan bekerja keras, memeras keringat demi merajut mimpi masa depan mereka. Setiap detak jam yang berputar di perantauan ia lalui dengan satu tujuan: mengumpulkan pundi-pundi agar bisa segera pulang ke Medan untuk mengunjungi ayah-ibunya, dan sudah pasti, demi menjumpai sang buah hati yang telah mengisi sepuluh tahun relung hidupnya.

Bab 4:
Pagi yang Runtuh dan Keputusan yang Kejam

Kerinduan yang sudah di ujung ubun-ubun akhirnya membawa Marollop kembali ke Medan. Setelah perjalanan melelahkan, ia tiba di rumah pada suatu pagi dengan senyum merekah. Dadanya membuncah, membayangkan genggaman hangat tangan sang buah hati yang akan menghapus seluruh lelah rindunya selama tiga bulan ini.
Namun, takdir justru telah menyiapkan belati paling tajam tepat di depan pintu rumahnya.
Belum sempat ia meminum segelas air untuk melepas dahaga perjalanan, ibu dari kekasihnya datang bertamu. Setelah beberapa patah kata basa-basi yang terasa amat kaku dan dingin, bibir wanita tua itu bergetar. Dengan suara parau, beliau menyampaikan kabar yang seketika meruntuhkan seluruh dunia Marollop: kekasih hatinya, wanita yang ia jaga kesucian dan komitmennya selama sepuluh tahun, telah pergi meninggalkan rumah... lari bersama pria lain.
Dunia Marollop runtuh seketika. Dadanya terasa sesak, hancur berkeping-keping hingga ia lupa bagaimana caranya bernapas. Sepuluh tahun runtuh dalam satu detik. Rasa sakit yang teramat hebat itu seketika menjelma menjadi kemarahan dan harga diri seorang pria yang terluka sedalam-dalamnya.
Di hadapan pengkhianatan yang begitu keji, Marollop menolak untuk terlihat lemah. Ego dan harga dirinya berontak; ia menolak meneteskan air mata di tempat itu untuk seorang wanita yang telah membuang kesetiaan satu dekade demi lelaki yang baru dikenal. Dengan hati yang seketika membatu, siang itu juga Marollop langsung membalikkan badannya. Tanpa menatap ke belakang lagi, ia kembali berjalan menuju terminal, bersiap pulang ke Banda Aceh.
Medan hari itu terasa begitu asing dan kejam baginya.

Bab 5:
Air Mata di Dalam Bus Malam Banda Aceh

Marollop mungkin bisa berpura-pura menjadi batu di hadapan ibunya atau orang lain, namun ia tidak bisa membohongi jiwanya sendiri yang telah hancur lebur.
Begitu tubuhnya bersandar di kursi bus malam "Kurnia" yang membawanya membelah jalanan kembali menuju Banda Aceh, seluruh pertahanan pria itu runtuh total. Di dalam kabin bus yang remang-remang, di sela-sela deru mesin yang membelah keheningan malam, air mata Marollop tumpah tak terbendung. Air mata itu mengalir deras, membasahi pipinya tanpa henti.
Suasana terasa kian menyayat hati ketika dari speaker bus malam tersebut mulai mengalun lagu "Just For You" dari Richard Cocciante. Lagu itu... adalah lagu favorit mereka berdua. Setiap bait lirik dan petikan nadanya seolah berubah menjadi sembilu yang menguliti hati Marollop. Ia tidak memedulikan lagi pandangan heran atau iba dari penumpang di sebelah maupun sekelilingnya. Isak tangis yang sedari tadi ditahannya di dada akhirnya pecah, meratapi nasibnya yang begitu malang.
Bagaimana mungkin cinta yang dipupuk sejak masih memakai seragam SMP di Asrama Polisi Kampung Durian, yang tumbuh subur selama 10 tahun, yang dikawal deru Honda Cup hijau, dan telah direstui oleh kedua orang tua, bisa mati dan menguap begitu saja dalam hitungan hari?
Di sepanjang jalan yang gulita menuju Banda Aceh, di atas bus "Kurnia" yang bergoyang, Marollop hanya bisa menatap kegelapan di luar jendela, ditemani remuk redam hatinya yang paling dalam. Perjalanan malam itu menjadi perjalanan yang paling panjang, paling sunyi, dan paling menyayat hati dalam hidupnya.
Subuh dini hari, ketika bus mulai mendekati gerbang kota Banda Aceh, suasana kabin yang dingin kembali disergap sayup-sayup lagu "I've Been Away Too Long" dari George Baker. Mendengar bait demi bait lagu tentang kepergian yang terlalu lama itu, Marollop menyeka sisa air matanya. Di tengah kehancuran batinnya, ia menarik napas dalam-dalam dan membatin dengan ketulusan seorang pria yang pernah sangat mencintai:
"Semoga Hidupmu Selalu Bahagia Dengan Apa Yang Telah Engkau Pilih..."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kasih komen yah...