Jumat, 22 Mei 2026

"Antara Cemburu dan Takdir Marollop"

Bab 6:
Gadis Pemalu Dipinggir Kota Medan

Setelah badai besar yang menghancurkan impian masa mudanya bersama Mawar (cinta pertama yang mengkhianatinya) hati Marollop benar-benar runtuh. Kesehariannya pasca-perpisahan pahit itu dihabiskan di tanah perantauan, bekerja menata hidup baru di Telkom Banda Aceh. 
Luka batin yang mendalam itu ia bawa ke ujung pulau Sumatra kelam.
Namun, sejauh apa pun ia merantau di Serambi Mekkah, ikatan dengan tanah kelahirannya tak pernah putus. Hampir setiap bulan, Marollop selalu menyempatkan diri untuk pulang ke Medan demi mengunjungi orang tuanya. Dan setiap kali masa pulang ke Medan itulah, Marollop selalu menyempatkan diri untuk main ke Tuntungan, sebuah desa kecil di pinggiran kota Medan yang merupakan kampung halaman sang ayah.
Di desa asri inilah Marollop bersama orang tuanya dulu sempat menetap selama dua tahun sebelum akhirnya mereka pindah ke kota Medan. 
Dan didesa ini pulalah dulu Marollop pernah tertarik dengan seorang remaja yang pendiam dan pemalu, sebut saja namanya "Melati"
Bagi Marollop, Tuntungan adalah tempat pelarian terbaik untuk menenangkan diri dan melupakan trauma masa lalunya. Di sana, ia bisa sejenak lepas dari bayang-bayang masa lalu yang kelam.

Di tengah momen-momen kepulangannya ke Tuntungan itulah, matanya perlahan mulai tertambat lagi pada sosok remaja putri yang dulu pernah ada rasa ketertarikan padanya semasa Marollop tinggal di Tuntungan ini sebelum pindah ke Medan. Gadis itu berasal dari keluarga yang status sosialnya cukup berada di antara warga setempat, namun tidak membuat gadis itu sombong, justru kesantunannya yang membuat Marollop perlahan-lahan menemukan kembali sekeping hatinya yang sempat mati rasa.

Melalui komunikasi yang intens dan pertemuan berharga setiap kali Marollop pulang ke Medan, ia akhirnya berhasil memikat hati sang gadis. Tuntungan yang awalnya hanyalah tempat persinggahan untuk mengobati lara, kini resmi berubah menjadi tempat berseminya kisah cinta yang kedua bagi Marollop, terlebih keluarga sang gadis pun menyambutnya dengan tangan terbuka, seolah restu sudah di genggaman.

Bab 7:
Jarak Banda Aceh dan Bayangan di Teras Rumah

Hari-hari itu terasa begitu indah namun sederhana. Marollop sering menjemput sang pujaan hati di kampusnya, IKIP Negeri Medan, lalu menempuh perjalanan pulang ke Tuntungan bersama-sama menggunakan Sudaco (istilah angkutan kota atau Angkot di Medan).

​Suatu sore yang basah, hujan turun dengan sangat derasnya mengguyur kota Medan. Marollop dan kekasihnya sudah berada di dalam angkot yang sedang ngetem di pinggir jalan Pasar Petisah, menunggu penumpang lain hingga penuh. Di tengah gemercik air yang menghantam atap seng angkot dan dinginnya udara sore itu, dari speaker tape angkot mendadak mengalun tembang sendu dari Chrisye yang berjudul "Selamat Jalan Kekasih".

​Lirik lagu yang puitis dan penuh duka itu seolah menghipnotis atmosfer di dalam angkot. Dalam keheningan dan syahdunya suasana, sang kekasih perlahan merebahkan kepalanya di pundak Marollop. Tangannya bergerak, menggenggam erat jemari Marollop seolah enggan untuk melepaskannya. Derasnya curah hujan di luar dan kehangatan di dalam angkot itu menciptakan sebuah momen yang teramat syahdu, sebuah kenangan manis yang kelak akan terus membekas di sepanjang hidup Marollop.

​Pernah suatu ketika, saat Marollop sedang menjemput kekasihnya di halaman kampus IKIP Negeri Medan, sebuah tatapan tak sengaja menghentikan langkahnya. Di sudut halaman kampus itu, berdiri sosok yang sangat ia kenal - Mawar, cinta pertamanya yang dulu pergi meninggalkan luka paling dalam. Wanita itu sedang menatap ke arah Marollop. Entah mengapa, seolah ada magnet tak kasat mata yang kuat, pandangan mereka saling terkunci.

​Marollop seketika didera kebingungan yang hebat. Dadanya bergemuruh antara keinginan untuk melangkah menemuinya atau mengabaikannya dan berlalu begitu saja. Namun, di tengah pergolakan batin itu, gadis pemalu di samping Marollop justru menunjukkan kedewasaan jiwa yang luar biasa. Dengan suara yang lembut namun terdengar singkat dan tegas, ia berbisik, "Temui dan sapalah, adek akan menunggu di sini sampai abang selesai menemuinya."

​Kata-kata itu memberi kekuatan pada Marollop. Ia melangkah perlahan menemui sosok yang dulu pernah menguasai seluruh relung hatinya. Ketika jarak mereka sudah dekat, kalimat yang bertahun-tahun terpendam keluar begitu saja dari bibir Marollop, "Mengapa semua ini bisa terjadi, Mawar...?"

Mawar menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. Dengan suara bergetar menahan tangis, ia menjawab, "Maafkan aku, Lop... Pergilah lagi, temui temanmu itu. Aku mengerti perasaannya, karena kami sesama wanita. Puas sudah rasanya aku bisa melihat kembali wajahmu secara nyata, tepat di depanku, setelah sekian tahun yang lalu terakhir kali aku melepasmu di Bandara Polonia dulu..." Kalimat itu terputus oleh isak tangis yang mulai pecah.

​Tak ada kata-kata lain yang sanggup diucapkan Marollop. Di hadapan wanita yang pernah mengkhianatinya itu, ia hanya mengulang kalimat yang dulu pernah ia batin di dalam bus Kurnia: "Semoga hidupmu selalu bahagia dengan apa yang telah engkau pilih..."

​Marollop pun berbalik, meninggalkan masa lalunya yang sedang terisak. Namun, saat ia kembali berjalan menuju kekasih Melati, langkah Marollop mendadak melambat. Di atas bangku teras kampus, gadis pemalunya itu ternyata sedang duduk sambil menyeka air mata yang membasahi pipinya. Pemandangan itu membuat hati Marollop terenyuh hebat.

​Gadis itu menangis bukan karena cemburu, melainkan karena ikut merasakan kepedihan yang mendalam di hati Marollop. Sebab, sejak awal hubungan mereka, Marollop memang sudah menceritakan kisah kegagalan cinta pertamanya secara lengkap, jujur, dan detail. Di teras kampus itulah Marollop menyadari, betapa beruntungnya ia memiliki wanita dengan hati selembut dan sedewasa itu.

​Namun, di balik keindahan dan ketulusan itu, ada duri yang selalu menusuk hati Marollop. Setiap kali ia berkunjung ke Tuntungan, selalu saja ada pria lain yang juga duduk di teras rumah kekasihnya. Pria itu bukan sembarang orang; ia berasal dari keluarga terpandang setempat dan merupakan seorang prajurit TNI. Walau sang gadis dan keluarganya selalu meyakinkan Marollop bahwa pria itu sama sekali tidak diberi hati, keberadaannya yang konstan di sana tetap menjadi hantu bagi Marollop.

Bab 8:
Badai di Tuntungan dan Tiket Pulang Bus Kurnia

Seiring bergulirnya waktu, kenyataan pelan-pelan menjelma menjadi dinding pembatas yang teramat angkuh. Jarak ratusan kilometer yang membentang antara Banda Aceh dan Tuntungan mulai menghimpit batin Marollop tanpa ampun. Ruang dan waktu mengkhianati rindu; ia kini hanya bisa hadir satu atau dua kali saja dalam sebulan untuk menatap wajah sang kekasih.

Di sisa hari-harinya yang sunyi di Banda Aceh, saat waktu dan tenaganya harus menyentuh urusan pekerjaan, pikirannya justru terbang jauh, telantar di sebuah teras rumah di Tuntungan. Marollop mulai dihantui oleh bayang-bayang cemburu yang tak kasat mata namun terasa begitu nyata. Bayangan seorang pria berpangkat TNI yang kerap duduk di sana, mengisi ruang yang seharusnya menjadi miliknya, terus-menerus mengusik ketenangannya. Benak Marollop bergolak hebat; rasa takut akan masa lalu yang kelam mendadak bangkit kembali. Jiwanya yang pernah hancur lebur menolak keras untuk mengalami nasib yang sama: dikhianati untuk kedua kalinya.

Demi mengakhiri siksaan batin yang kian hari kian menguliti kewarasannya, Marollop akhirnya memilih untuk mengalah pada keadaan. Ia merajut sebuah keputusan paling pahit yang pernah dilahirkan oleh seorang pria yang sedang jatuh cinta.

Malam itu, di bawah langit Tuntungan yang mendadak terasa dingin dan mencekam, Marollop berdiri dengan tubuh bergetar namun tatapan yang dipaksakan tegar. Di hadapan gadis pemalu yang teramat ia cintai, ia mengucapkan kata pisah. Kalimat itu meluncur pelan, memotong semua mimpi yang baru saja mereka sulam.

Seketika itu juga, pertahanan sang gadis runtuh. Tangisnya pecah menjadi jeritan histeris yang menyayat malam sebelum akhirnya ia berbalik dan berlari mengunci diri di dalam kamar. Di luar, badai kekecewaan tak terbendung; kakak sang gadis meradang penuh amarah, sementara sang ibunda menatap Marollop dengan pandangan kecewa yang teramat dalam. Malam itu, Marollop melangkah meninggalkan rumah Tuntungan, berjalan menembus kegelapan menuju inti kota Medan dengan mata yang berkaca-kaca. Hatinya telah robek menjadi serpihan kecil.

Keesokan harinya, takdir seolah memutar kembali kaset lama yang penuh luka. Marollop kembali melangkah gontai menuju terminal, menaiki bus malam "Kurnia" untuk membawanya pulang ke Banda Aceh.

Duduk di dalam kabin bus yang sama, membelah rute jalanan yang sama seperti beberapa tahun lalu saat ditinggalkan Mawar, Marollop merasakan kepedihan yang tiada tara. Roda bus Kurnia yang berputar di atas aspal malam itu seolah sedang menggilas sisa-sisa harapannya yang terakhir. Di atas kursi penumpang yang dingin, Marollop menatap keluar jendela yang gelap, kembali ke tanah rantau membawa batin yang sepenuhnya hampa—ia pulang dengan separuh nyawa yang telah hilang di tanah Tuntungan.

Bab 9:
Simfoni Sunyi di "Dijenjang Malam" Radio Alfa Romeo

Di Banda Aceh, waktu seolah berjalan melambat bagi Marollop yang memilih untuk mengunci rapat-rapat pintu hatinya. Kecewa yang beruntun, dari pengkhianatan Mawar hingga kepasrahan yang menyakitkan di Tuntungan, membuatnya benar-benar patah arang. Ia bersumpah pada sunyi untuk tidak akan pernah lagi membagikan sekeping hatinya—yang kini sudah retak tak berbentuk—kepada wanita mana pun. Baginya, cinta telah selesai.

Demi mengubur lara yang terus menggerogoti warasnya, Marollop melarikan seluruh jiwanya ke dalam ruang siaran. Setiap malam jam 21.30 ia menyibukkan diri sebagai seorang penyiar di Radio "Alfa Romeo", salah satu radio broadcasting di kota Serambi Mekkah, disamping kesaharianya sebagai seorang karyawan Telkom. Di studio yang hangat namun penuh kepasrahan itulah, ia melahirkan sebuah ruang bagi jiwa-jiwa yang sepi melalui sebuah acara malam yang legendaris: "Di Jenjang Malam".

Setiap kali jarum jam merayap tinggi dan dunia mulai terlelap, suara bariton Marollop yang berat dan teduh hadir membelah udara kota Banda Aceh, menyapa para pendengar setianya yang terjaga dalam sepi. Tugasnya adalah merajut rasa; ia membacakan cerita-cerita singkat tentang kehidupan atau bait-bait puisi kiriman pendengar, yang kemudian ia akhiri dengan alunan lagu-lagu sendu yang seirama dengan duka di dalam teks tersebut.

Namun, entah karena hukum alam atau sekadar selera takdir yang sedang bercanda, garis lembaran kertas yang mampir ke meja siarannya selalu bernada sama. Surat demi surat, puisi demi puisi dari para pendengarnya, tak pernah absen dari tema kepiluan, perpisahan, dan air mata.

Di bawah temaram lampu studio Radio "Alfa Romeo", di depan mikrofon yang menjadi saksi bisu, Marollop sering kali kehilangan batas antara kisah pendengarnya dan nestapa pribadinya. Kalimat-kalimat puitis yang ia udarakan seolah-olah ditulis khusus untuk menguliti lukanya sendiri. Tak jarang, di tengah lagu yang sedang berputar atau saat bait puisi mencapai puncaknya, pertahanan Marollop runtuh di ruang siar itu. matanya berkaca-kaca, dadanya sesak, ikut hanyut dalam pilu yang teramat dalam bersama jutaan telinga yang mendengarkannya di luar sana.

Di sela-sela desah napasnya yang berat, di dalam benak Marollop selalu menggema pertanyaan yang tak pernah menemukan jawaban di bumi: Mengapa cinta keduanya ini juga harus kandas dengan begitu kejam? Mengapa pelangi kebahagiaan seolah sengaja membelokkan jalannya, menolak untuk singgah dan berpihak pada hidup seorang Marollop?

Malam-malam di Radio Alfa Romeo pun berubah menjadi altar persembahan dukanya, tempat di mana Marollop merayakan kesendirian di jenjang malam yang kian sunyi dan pekat.


Bab 10:
Kabar dari Jagat Maya dan Elegi Banjir Air Mata

Waktu adalah penyembuh yang lambat, namun ia berjalan pasti. Tahun-tahun yang melelahkan berlalu, membawa Marollop melintasi berbagai tikungan hidup hingga luka di hatinya perlahan mengering, berganti menjadi parut kenangan yang sunyi. Hingga pada suatu hari, di balik layar kaca gawai dan riuhnya jagat media sosial, jemarinya tak sengaja bersinggungan dengan takdir masa lalu. Ia menemukan akun facebook milik adik kandung dari mantan kekasihnya di Tuntungan.

Ada debar yang asing di dadanya. Dengan keraguan yang bergelayut, namun didorong oleh rasa ingin tahu yang tak bisa ia bendung, Marollop memberanikan diri mengirim pesan, menanyakan kabar tentang mantan kekasihnya, "Melati" yang dulu pernah mengisi hari-harinya di atas Sudaco kota Medan.

Namun, jawaban yang datang sore itu bukanlah sekadar untaian kata biasa. Ia adalah hantaman godam yang jauh lebih runtuh, jauh lebih kejam dari kata perpisahan malam itu di Tuntungan.

Sang adik berkisah, lewat baris-baris kalimat yang terasa bergetar, bahwa kakaknya telah lama meniti takdir baru. Wanita pemalu itu, Melati telah menikah dan dikaruniai dua orang anak yang lucu. Namun, kisah itu tidak berhenti sampai di sana. Dengan hati yang remuk, sang adik mengabarkan bahwa kakaknya kini telah tiada. Jiwanya telah terbang ke langit, menyusul gemuruh air bah yang melanda tempat tinggalnya di Binjai. Ia mengembuskan napas terakhir, tenggelam dan berpulang dalam pelukan musibah banjir besar yang memilukan.
Seketika itu juga, dunia di sekeliling Marollop mendadak hening. Senyap tanpa suara.

Rasa bersalah yang teramat pekat langsung menyergap dari kegelapan, merayap dan mencengkeram erat dadanya hingga terasa sesak. Marollop tersungkur dalam penyesalan yang terlambat. Angannya melayang kembali pada malam perpisahan di Tuntungan, pada tangisan histeris di balik pintu kamar, dan pada egonya yang terlampau tinggi saat dibakar cemburu buta. Ia merasa andai saja dulu ia lebih bersabar, andai saja jarak Banda Aceh tak membuatnya abai, mungkin takdir wanita itu akan berbeda. Namun, takdir tak pernah menyediakan pintu untuk berbalik arah.

Hilang arah, patah, dan merasa berdosa, Marollop memejamkan matanya yang kini basah. Untuk kedua kalinya dalam hidup, ia harus menelan duka-lara yang paling legam. Kehilangan yang kini terkunci rapat oleh dinding kematian yang abadi.

Di tengah remuk redam batinnya yang tak lagi berbentuk, Marollop menengadahkan jiwanya ke langit, melangitkan doa paling tulus untuk wanita yang tak pernah sempat ia mintai maaf secara nyata:

"Ya Tuhan... dia orang baik. Dia wanita yang begitu lembut, sederhana, dan juga teramat sabar... Lapangkanlah kuburnya, ampunilah segala salah dan khilafnya, serta terimalah seluruh amal ibadahnya di sisi-Mu... Aamiin..."

Malam itu, di bawah langit yang sunyi, Marollop akhirnya mengembalikan seluruh kepingan hatinya yang patah kepada sang pemilik semesta, membiarkan kenangan tentang Tuntungan abadi bersama doa-doa yang tak akan pernah putus ia layangkan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

kasih komen yah...